Hasil analisis kuantitatif Lembaga Penelitian Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI) menyatakan bahwa ada kaitan yang kuat antara industri kelapa sawit dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Hasil ini disampaikan dalam dalam konferensi 14th Indonesian Conference Palm Oi (IPOC)l di Nusa Dua, Bali, Kamis (1/11/2018) (Rosmayanti, 2018).
Hasil riset menunjukkan, dari 10% kenaikan jumlah lahan perkebunan kelapa sawit, ternyata berpengaruh terhadap 0,05% penurunan tingkat kemiskinan, sebesar 0,02% menurunkan tingkat pengangguran, 0,03% peningkatan jumlah lulusan sekolah menengah ke atas, 0,12% peningkatan konsumsi non-makanan, serta sebesar 0,21% pada peningkatan akses air bersih (Rosmayanti, 2018).
Peningkatan produktivitas kelapa sawit dapat memberikan kontribusi terhadap percepatan pencapaian SDGs. Hal ini disebabkan beberapa tujuan yang ada di dalam SDGs dapat dicapai melalui industri kelapa sawit. Tujuan No. 1, No Poverty (tanpa kemiskinan), yakni menuntaskan kemiskinan di segala tempat.Tujuan No. 2, Zero Hunger (tanpa kelaparan), yakni mengakhiri kelaparan, dengan adanya peningkatan produktivitas kelapa sawit memberikan pasokan cukup bagi industri makanan, termasuk minyak goreng dan olahan lainnya. Tujuan No. 13, Climate Action (penanganan perubahan iklim), yakni mengambil langkah penting untuk melawan perubahan iklim dan dampaknya.Kelapa sawit memiliki kemampuan menyerap karbondioksida dari atmosfer, sehingga dapat mengurangi emisi yang ada di bumi.
Selain itu produktivitas kelapa sawit mendukung moratorium hutan primer dan mendukung penanganan pencegahan kebakaran hutan. Tujuan No. 8, Decent Work and Eonomic Growth (pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi), yakni membangun pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, menciptakan lapangan pekerjaan dan pekerjaan yang layak untuk semua. Sebagai industri kaya akan olahan, tentu memerlukan pekerja yang tidak sedikit sehingga menyediakan lapangan pekerjaan bagi jutaan orang. Selain itu, sektor kelapa sawit juga memberikan kontribusi terhadap tujuan No. 17, Partnership for The Goals (kemitraan untuk mencapai tujuan), yakni menghidupkan kembali kerja sama global demi pembangunan berkelanjutan (Saputra, 2019).
Indonesia harus membenahi kinerja industri minyak sawit agar tidak menjadi follower Malaysia dan permanen sebagai pengekspor minyak sawit atau penyedia bahan baku biodiesel. Industri sawit perlu langkah revitalisasi nyata. Industri ini tak akan beranjak maju karena skim pendanaan, penelitian dan pengembangan, pasar dan harga serta kelembagaan yang tidak tertata dengan baik (Nuryanti, 2008).
Selain itu juga beredar hoaks mengenai industri sawit di kalangan masyarakat. Banyak isu hoaks yang dialamatkan kepada sawit. Ada beberapa pihak yang menyalahgunakan media sosial untuk melakukan black campaign. Media dan humas pemerintah seyogyanya memerangi hoaks tersebut (Yusfita, 2019).
Sudah saatnya Indonesia memandang serius dan melakukan upaya nyata untuk melawan Isu/kampanye negatif tersebut dengan membuka mata dunia tentang fakta dan kemajuan yang telah dicapai di lapangan. Merupakan komitmen kuat Pemerintah Indonesia untuk tetap menjaga kelestarian lingkungan dengan tetap memberikan ruang bagi industri sawit lestari (sustainable) demi kesejahteraan Bangsa Indonesia (Gibbons, 2018).
Menilik problematika yang hadir perihal komoditas sawit, terdapat beberapa langkah yang dapat dilakukan pemerintah dalam menunjang percepatan pencapaian SDGs. Kasus tuduhan deforestasi yang terjadi dapat terhindarkan manakala penggunaan lahan untuk penanaman sawit dialihkan dari hutan hujan tropis menjadi ladang Sabana, seperti yang dilakukan oleh Kolombia. Masyarakat juga perlu diedukasi terkait peningkatan nilai tambah dan daya jual sawit di pasar dunia, sangat diperlukan penyuluhan mengenai penggunaan dan pemanfaatan lahan, serta minyak sawit yang ramah lingkungan bagi masyarakat, agar sumberdaya komoditas sawit dapat termanfaatkan dengan maksimal dan mempunyai kekuatan pasar yang kuat dibanding dengan minyak nabati lain (Haryadi, 2019).
Jadi, dapat disimpulkan bahwa "Sawit Menguatkan SDGs Indonesia" atau dengan kata lain Jika Sawit Kuat maka menambah akselerasi Pencapaian SDGs. Sawit Kuat, maka Indonesia menjadi Kuat nan Hebat. Kuat baik dari ekonomi, sosial, dan lingkungan .
Sumber Pustaka :
Gapki. 2018. Industri Kelapa Sawit Adalah Kunci Bagi Pencapaian SDGs.<https://gapki.id/news/6270/industri-kelapa-sawit-adalah-kunci-bagi-pencapaian-sdgs>. Diakses tanggal 13 September 2019.
Gibbons, Z. 2018. Indonesia Sampaikan Informasi Sawit Lestari ke Nowergia .<https://www.antaranews.com/berita/757267/indonesia-sampaikan-informasi-sawit-lestari-ke-norwegia>. Diakses tanggal 11 September 2019.
Nuryanti, S. 2008. Nilai Strategis Industri Sawit. Analisis Kebijakan Pertanian, Volume 6 No. 4, Desember 2008 : 378 - 392.
Rosmayanti. 2018. Begini Kontribusi Industri Sawit terhadap Pencapaian SDGs.<https://www.wartaekonomi.co.id/read201844/begini-kontribusi-industri-sawit-terhadap-pencapaian-sdgs.html>. Diakses tanggal 13 September 2019.
Saputra, A. 2019. Optimalisasi Lahan Gambut Melalui Peningkatan Produktivitas Sawit di Sumsel Sebagai Solusi Percepatan Pencapaian SDGs.<http://globalplanet.news/berita/19751/optimalisasi-lahan-gambut-melalui-peningkatan-produktivitas-sawit-di-sumsel-sebagai-solusi-percepatan-pencapaian-sdgs>. Diakses tanggal 11 September 2019.
Yusfita, R. D. 2019. Kebun Kelapa Sawit dan Industri Minyak Sawit Sumbangsih Devisa Ekspor. <https://padang.tribunnews.com/2019/08/15/gapki-kebun-kelapa-sawit-dan-industri-minyak-sawit-sumbangsih-devisa-ekspor>. Diakses tanggal 13 September 2019.
0 komentar :
Posting Komentar