Bencana adalah suatu gangguan serius terhadap masyarakat yang menimbulkan kerugian secara meluas dan dirasakan, baik oleh masyarakat berbagai material dan lingkungan (alam), dimana dampak yang ditimbulkan melebihi kemampuan manusia guna mengatasinya dengan sumber daya yang ada. Bencana ialah sebuah kejadian yang tidak biasa terjadi disebabkan oleh alam maupun ulah manusia, termasuk pula di dalamnya merupakan imbas dari kesalahan teknologi yang memicu respons dari masyarakat, komunitas, individu maupun lingkungan untuk memberikan antusiasme yang bersifat luas. Daerah rawan bencana dengan jumlah maka wilayah tersebut dapat mengeliminir dampak bencana (Hediarto, 2016).

Tidak semua bencana alam dipicu oleh dinamika alam semata. Gaya hidup manusia yang bersifat konsumtif bahkan hedonis. Keadaan ini membuat manusia hiper-agresif, rakus, tamak, dan bertindak di luar kepatutan. Sebagai contoh adalah pembabatan  hutan baik untuk lahan pertanian, perkebunan, area pemukinan, maupun industri dengan cara pembalakan liar maupun pembakaran hutan yang menimbulkan kabut asap. Pengolahan lahan yang semena-mena dan tidak sesuai dengan peruntukannya, terjadinya peperangan, percobaan bom nuklir, kegiatan industri, kegiatan penambangan yang serakah dan amburadul dapat menambah parah kondisi sosial masyarakat (Tjandra, 2018).

Tugas manusia dilahirkan ke bumi menurut para ahli adalah untuk menjaga alam ini supaya tetap lestari. Alam diciptakan Tuhan dengan milyaran hal menakjubkan di dalamnya. agar manusia sadar, betapa 'mahanya' kekuasaan Tuhan. Karena Tuhan menciptakan alam semesta untuk dijadikan tempat merenung bagi orang-orang yang berpikir dan berserah diri. Toleransi bukan sebatas saling menghargai antar manusia dengan manusia lainnnya, tetapi juga bagaimana manusia 'toleran' dengan alam. Dari saling menghargai tersebut, manusialah yang paling membutuhkan alam. Tanpa alam, manusia tidak akan lama bertahan hidup, Tanpa manusia, alam akan baik-baik saja (Soedrajat, 2017).

Oleh sebab itu, masyarakat Indonesia sangat penting untuk mengetahui, memahami dan menyadari bahwa bumi tempat untuk berpijak sehari hari merupakan wilayah yang rawan terjadi bencana sehingga bencana bisa terjadi kapan saja dan di wilayah mana saja. Manusia tidak bisa memprediksi dengan tepat kapan dan dimana terjadinya. Namun demikian masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan oleh berbagai pihak, termasuk pemerintah, masyarakat sipil, masyarakat lokal, untuk mengurangi resiko dan dampak bencana (Muslimin, 2018). 

Berdasarkan hal tersebut, disadari bahwa pemahaman tentang bencana alam harus dimiliki oleh semua orang. Diperlukan upaya konkret dalam memahami dan mengantisipasi kondisi alam secara terpadu. Tulisan ini bertujuan untuk memberi gambaran tentang kesiapsiagaan, kewaspadaan dan kesadaran masyarakat di lokasi rawan bencana dalam memahami bencana dan upaya yang mereka lakukan dalam rangka mengurangi risiko bencana. Sementara itu, manfaat tulisan ini diharapkan dapat memberi masukan dalam pelaksanaan kebijakan penanggulangan bencana khususnya terkait upaya membangun masyarakat sadar bencana dan toleransi dengan alam.


Manusia dan alam bagaikan anak dan ibu 

Alam adalah pengayom, tempat manusia dilindungi, seperti Ibu menaungi anaknya. Tapi alam telah begitu terdegradasi karena manusia tak memperlakukannya sebagai ibu, dari siapa manusia belajar mencita. Saya selalu mengatakan alam itu ibu. Ketiadaaan cinta membuat alam menimpakan bencana kepada manusia karena kita tak bijak mengelola alam (Sidik, 2010).

Manusia dan alam bagaikan anak dan ibu. Hal ini mengandung  makna di mana manusia dan alam sebenarnya saling berkaitan satu sama lain, jika  manusia adalah anaknya maka ibunya adalah alam. Oleh karena itu jaga alam dengan sebaik-baiknya, cintai dia, rawat dia karena jika alam hancur maka hancur jugalah manusia di dalamnya (Nur, 2019).

Dunia yang rusak dan terjadi bencana alam, banjir, dan sebagainya. Sebenarnya karena diri kita sendiri yang tidak sadar untuk menjaga lingkungan di sekitar kita. Maka dari itu kita harus sadar akan perilaku buruk yang sudah kita lakukan. Tugas manusia adalah memelihara apa yang ada di  alam ini. Jadi, sangat erat kaitannya antara alam dan manusia (Nur , 2019).

Mungkin bila alam dapat berkata-kata, tak hanya umpatan atau cacian yang ia ungkapkan. Tapi juga rasa pilunya yang dikhianati oleh manusia, makhluk yang ia izinkan hidup diatas keraknya. Tuhan pun mendengar teriakan alam, hanya saja manusia tak terlalu peka dengan tangisan dan rintihan alam, seperti malin kundang yang lebih memilih kemewahan dibandingkan ibunya (Dewi, 2012).

Sebelumnya, manusia begitu mematuhi dan menghargai alam sebagai karunia. Hingga dalam peradaban sebelumnya harmonisme alam dan manusia terasa begitu kental. Terbangunnya kearifan lokal dalam setiap kegiatan manusia hingga pengkultusan alam adalah penjelmaan tuhan. Kebudayaan yang dihasilkan manusia tidak pernah lepas dari inspirasi alam. Namun setelah manusia menciptakan mesin-mesin dengan bahan bakar mineral, lambat laun perubahan semakin terlihat dengan jelas. Alam, bumi, lingkungan ataupun apalah namanya, menjadi objek oleh manusia untuk dieksploitasi secara besar-besaran. Keharmonisan yang telahdibangun sebelumnya, kini berubah menjadi ajang balas dendam (Sururi, 2014).

Jika dirunut secara analisis-logis-rasional, munculnya tantangan ini adalah sebagai konsekuensi logis dari sikap, cara pandang, dan perilaku manusia yang memandang alam secara teknis-ekonomis. Krisis lingkungan hidup global saat ini dilansir akibat dari paradigma ekonomis dalam memandang realitas empirik yang ditopang oleh pilar teknologi. Hanya saja karena teknologi adalah pilar ekonomi, dapatlah cara berpikir itu disebut sebagai cara berpikir tekno-ekonomis yang tampil dalam wajah homo techno-economicus (Binawan, 2010).

Semua itu memicu terjadinya bencana alam yang dipercepat (accelarated disaster) khususnya tanah longsor, banjir, perubahan iklim, dan kerusakan lingkungan. Dengan demikian, baik secara langsung maupun tidak, manusia turut berperan dalam terjadinya sebagian bencana alam (khususnya tanah longsor, banjir, perubahan iklim, dan kerusakan lingkungan.  Akibatnya, "Ibu Bumi" murka yang diwujudkan dengan terjadinya bencana alam, antara lain tanah longsor, kekeringan, banjir, erosi, rusaknya lingkungan, dan perubahan iklim global .Kegiatan atau ulah manusia yang menimbulkan terjadinya bencana disebut sebagai bencana anthropogene, sedang bencana alam yang disebabkan oleh aktivitas alam disebut sebagai bencana geogene.Bencana alam dapat terjadi di mana pun dan kapan pun tanpa memandang batas negara, bangsa, keyakinan, status ekonomu, negara maju atau berkembang (Tjandra, 2018).


Di luar kemampuan kita

Di tengah keindahan, kesuburan serta kekayaan sumber daya alam, Indonesia ternyata menyimpan berbagai potensi bencana, mulai dari banjir dikala musim penghujan, kekeringan, kebakaran hutan, gunung meletus hingga gempa bumi disertai tsunami sudah memakan banyak korban. Memang bencana bisa terjadi kapanpun, dimanapun dan kepada siapapun, datang secara tiba-tiba dan diluar batas kemampuan manusia (Firmansyah, 2018).  

Yang namanya bencana, membuat kita semua ngeri. Membayangkan saja sudah cukup membuat kita ketakutan setengah mati. Jika bencana tersebut adalah di luar kemampuan manusia untuk mencegahnya, itu artinya kejadian tersebut memang membuat kita tidak berdaya untuk menghindar. Alam mengamuk kemudian meluluhlantakkan segala yang ada. Manusia menjadi sedemikian rapuh jika berhadapan dengan alam yang menggila. Kemudian setelah bencana tersebut berlalu...ada banyak luka ditinggalkan. Bukan sekadar luka fisik, trauma adalah luka hati yang lebih lama menyembuhkannya. Masalah psikis letaknya jauh...di dalam sana, sehingga bagi kita pasti lebih sulit kita pasti lebih sulit untuk mengobati, membalut dan menyembuhkannya (Marga, 2013).

Ada pelajaran penting yang bisa kita ambil sebagai umat beragama bahwa bencana merupakan ujian dari Allah. Bahwa ada kekuatan besar yang di luar kemampuan kita untuk mengendalikannya sehingga tidak ada yang perlu disombongkan atas pencapaian-pencapaian yang tampaknya luar biasa ini, padahal sesungguhnya kekuasaan Allah jauh tak terbatas (Ni'am, 2018).

Bencana merupakan peristiwa yang terjadi di luar kemampuan kita. Namun demikian, pengetahuan, informasi, dan kemampuan manajemen yang kita miliki dapat digunakan untuk mencegah atau mengurangi risiko yang terjadi (Frick dan Mulyani, 2006). 

Kesadaran bahwa kita hidup di daerah bencana mendesak untuk ditumbuhkan dan ditingkatkan sehingga kita selalu mempersiapkan diri jika hal tersebut terjadi, yang bisa datang kapan saja. Dengan demikian, dampaknya bisa diminimalisasi (Ni'am, 2018). 


Didasarkan pada kearifan lokal 

Budaya sadar bencana sedapat mungkin didasarkan pada kearifan lokal. Tata nilai sosial dan budaya lokal dapat dijadikan pijakan untuk bertindak dalam penanggulangan bencana. Termasuk bagaimana mereka berkomunikasi dengan masyarakat ketika akan dan sedang  terjadi bencana yang mengancam warga. Komunikasi sangat penting agar tidak menimbulkan kesalahpahaman (Rachmawati et al., 2018).

Kearifan lokal masyarakat dapat digunakan sebagai bagian dari mitigasi bencana. Masyarakat di daerah, kata dia, umumnnya mempunyai nilai-nilai yang dianut untuk melindungi diri ketika bencana datang, seperti yang dilakukan masyarakat di Pulau Siemulue, Nangroe Aceh Darussalam. Kearifan lokal menyelamatkan warga dari bencana tsunami pada 2004 lalu. penduduk Pulau Siemuleu mengenal tsunami sebagai smog. Mereka belajar dari kejadian terdahulu bahwa smog terjadi setelah gempa kuat. Ketika gempa dirasakan warga di pesisir, mereka langsung evakuasi secara mandiri dan pergi ke perbukitan untuk menyelamatkan diri. Guna mengingatkan ancaman tsunami, ada juga syair mengenai smog yang dikenal penduduk pulau tersebut (Astuti, 2019).

Di Palu terdapat komunitas adat berbasis kearifan lokal. Komunitas adat tersebut memiliki pengetahuan cara menyelamatkan diri ketika ada bencana, terutama gempa bumi dan tsunami. Kabupaten Sigi dan Palu juga memiliki komunitas adat yang masih sangat taat terhadap hukum adat. Ada komunitas adat Kulawi, komunitas Wana Persangke, komunitas Wana Ngabulan, komunitas Tojo Una-una dan komunitas Morowali. Mereka memiliki pengetahuan adat terkait kebencanaan cukup baik, seperti mengetahui jalur evakuasi untuk anak dan keluarga, tahu pangan-pangan lokal sebagai makanan cadangan di tempat evakuasi, dan tahu struktur bangunan yang terbuat dari alam sehingga adaptif terhadap bencana. pengetahuan kearifan lokal terkait mitigasi bencana bisa diapresiasi dengan dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan muatan lokal dan dilatih secara terus-menerus agar mudah diingat (Purningsih, 2019).

Konon, Jepang yang notabene negara dengan teknologi yang canggih, tetap memanfaatkan kearifan lokal dan dimasukkan di dalam kurikulum di sekolah-sekolah mereka. Seperti kita ketahui, Jepang juga memiliki potensi gempa bumi yang tinggi. Masyarakat di Jepang dapat mengantisipasi akan adanya gempa dari tanda-tanda alam yaitu berupa bentuk awan yang ada di langit seperti tertarik menuju ke satu titik. Bentuk awan tersebut tidak seperti keadaan yang normal dan cenderung memanjang menyerupai garis (tidak bergumpal-gumpal). Kearifan lokal ini tentu saja dipadu dengan analisis ilmiah dari para pakar gempa di Jepang. Rupanya hal ini pun apabila kita perhatikan fenomena awan seperti ini sering muncul di angkasa Aceh. Barangkali setiap kita nanti dapat membuktikan atau minimal memperhatikan fenomena alam berupa bentuk awan ini. Konon pula, bentuk awan yang seperti tertarik menuju ke satu titik itu karena gaya gravitasi yang terjadi di daerah pusat gempa, sehingga berakibat pada bentuk awan (Santoso, 2012). 


Berkawan dengan ancaman

Sebagai negara dengan tingkat kerawanan dan kerentanan yang tinggi, sudah saatnya Indonesia menempatkan ancaman bencana sebagai landasan utama dalam berbagai hal. Kerentanan harus  dihilangkan. Kerawanan harus ditangai secara maksimal. Peringatan dini harus menjadi bagian dari upaya melindungi dan menyelamatkan warga negara dari ancaman bencana. Kesiapsiagaan  harus menjadi bagian dalam menjalani hidup dan kehidupan.  Berkawan dengan ancaman, bersiasat mengurangi risiko bencana. Ancaman bencana harus dipahami dengan sungguh-sungguh agar kita lebih waspada dan lebih siap. Waspada dan siap ketika bahaya datang mengancam. Lebih siap apa yang harus dilakukan, ke mana harus menyelamatkan diri, bertahan hidup atau mendapatkan bantuan (Walhi, 2007).

Ketidaktahuan akan fenomena atau proses alam atau sering disebut sebagai ancaman alam (istilah yang keliru/kurang tepat), hal inilah yang sering menimbulkan bencana. Jika kita bijak dalam menyikapi alam, kita akrab dan bersahabat dengan alam maka ancaman alam tersebut dapat kita manfaatkan menjadi sumberdaya alam atau berkah. Sekarang tinggal kita mau pilih yang mana antara berkah atau musibah. Proses alam yang sama bisa menghasilkan ancaman juga menghasilkan sumberdaya baik mineral tambang yang berharga atau pemandangan yang sangat indah yang bisa menarik wisatawan (Adi, 2016).

Cara pandang yang positif dalam melihat ancaman bencana di tanah air ini adalah melihat alam yang banyak tantangan dan bahaya ini sebagai laboratorium alam untuk bencana, bukan supermarket. Dengan berpandangan seperti ini maka kita harus memanfaatkan laboratorium ini untuk menghasilkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk membuat solusi menghadapi ancaman bencana yang pasti akan banyak yang membutuhkan. Segala sesuatu yang terjadi di alam ini selalu ada solusinya yang harus kita cari (Adi, 2016). 

Meskipun getir dan pahit, itulah realita yang seringkali harus dihadapi oleh negara rawan bencana alam seperti Indonesia. Bukan hanya gempa bumi dan tsunami, Indonesia juga merupakan negara dengan potensi bencana gunung api tertinggi di dunia. Bencana alam memang mungkin tidak bisa dicegah dan sangat sulit diprediksi, tapi itu bukan berarti kita hanya bisa pasrah dan menyerah. Lihat saja cara orang Jepang hidup berdampingan dengan ancaman bencana alam. Kurikulum tentang risiko bencana alam bahkan sudah diajarkan di Negeri Sakura sejak anak-anak usia TK (Galeshita, 2019).

Bersahabat dengan bencana,  maka masyarakat bisa mencegah kerugian besar yang diakibatkan bencana alam. Bersahabat itu  memperlakukan layaknya sahabat. Kita harus tahu kapan dia marah, kapan dia muncul dan bagaimana kita perlakukan ketika dia marah atau sedih (Husha, 2018).


Peningkatan kapasitas masyarakat 

Indonesia memiliki kerentanan dan potensi bencana yang sangat tinggi ditinjau dari beberapa aspek, seperti: aspek geografis, klimatologis, geologis, dan sosial-demografis. Indonesia sebagai negara tropis juga memiliki resiko tinggi karena ancaman banjir, tanah longsor, dan wabah penyakit. Indonesia merupakan negara yang diperhitungkan sebagai salah satu yang paling rentan bencana alam, dengan berbagai jenisnya, di dunia. Sebagai gambaran awal, sekitar 13 persen gunung berapi dunia ada di wilayah kepulauan Indonesia, dan seluruhnya berpotensi menimbulkan bencana alam dengan intensitas dan kekuatan yang berbeda-beda (Belanawane cit. Sukmana, 2018).

Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan bencana, dengan karakteristik yang berbeda, sehingga penanganan terhadap setiap bencana pun berbeda. Untuk itu, identifikasi karakteristik dan potensi bencana baik secara nasional maupun lingkungan sekitar, sangat diperlukan pengetahuan untuk pengurangan risiko bencana. Pemahaman tentang dinamika di permukaan bumi (alam dan manusia), yang alam di suatu wilayah memiliki implikasi secara langsung terhadap masyarakat di wilayah tersebut. Partisipasi masyarakat untuk mengurangi dan menghindari risiko bencana penting dilakukan dengan cara meningkatkan kesadaran dan kapasitas masyarakat (Suryanti et al. cit. Desfandi, 2014).

Kapasitas masyarakat adalah interaksi modal manusia, sumber daya organisasi, dan keberadaan modal sosial dalam suatu masyarakat yang dapat dimanfaatkan untuk memecahkan masalah kolektif dan meningkatkan atau mempertahankan kesejahteraan masyarakat itu. Kapasitas masyarakat dapat beroperasi melalui proses sosial informal dan/atau upaya terorganisir oleh individu, organisasi, dan jaringan sosial yang ada di antara mereka dan antara mereka dan sistem yang lebih besar dimana masyarakat menjadi bagian (Chaskin et al., 2001).

Berdasarkan pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa peningkatan kapasitas ditekankan pada interaksi sosial antar individu, keberadaan dan pemanfaatan organisasi sebagai modal sosial yang dapat dimanfaatkan dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi secara kolektif guna meningkatkan kemampuan masyarakat. Disamping itu, peningkatan kapasitas dapat berjalan melalui interaksi individu, maupun organisasi, yang terbentuk dalam sebuah jaringan sosial melalui pemanfaatan sumber yang ada, baik di dalam maupun di luar masyarakat (Saluki, 2015).

Jika merujuk pada siklus manajemen bencana, peningkatan kapasitas masyarakat dilakukan sebelum bencana terjadi (pra bencana). Hal tersebut sering dilakukan melalui berbagai macam penyuluhan terhadap masyarakat  khususnya di  wilayah dengan tingkat risiko  bencana sukup tinggi. Namun saat ini peningkatan kapasitas dan peran aktif masyarakat tidak hanya dilakukan dengan metode penyuluhan semata, akan tetapi mulai melibatkan masyarakat untuk siaga terhadap bencana. Keterlibatan kelompok masyarakat dalam kegiatan pengurangan risiko bencana menjadi sangat penting karena jika tanpa peran aktif masyarakat, pemerintah akan sangat kesulitan menangani bencana yang terjadi di wilayah Indonesia yang begitu luas (Humaedi et al., 2016).

Peningkatan kapasitas masyarakat diharapkan dapat memperkecil faktor kerawanan dan kerentanan. Ketika masyarakat dapat melihat tanda-tanda alam saat akan terjadi bencana, mengetahui apa yang harus dilakukan saat kejadian bencana dan pasca bencana serta kapan saat aman untuk kembali menempati tempat tinggal, diharapkan dapat memperkecil korban terutama korban jiwa yang terjadi saat kejadian bencana. Peningkatan pengetahuan dan apa yang harus dilakukan saat kejadian bencana tersebut merupakan faktor kapasitas masyarakat. Semakin tinggi tingkat pengetahuan dan pemahaman masyarakat saat terjadi bencana, diharapkan dapat memperkecil tingkat resiko bencana yang ditimbulkan oleh faktor kerawanan dan kerentanan (BNPB cit. Widuati dan Budiman, 2016).

Pelaksanaan metode parsitipatif merupakan salah satu pendekatan yang dapat dilakukan untuk mendukung meningkatkan pemahaman masyarakat. Asas yang melandasi pendekatan ini adalah "pemberdayaan', yaitu memperhatikan kapasitas awal yang dimiliki oleh masyarakat dengan kegiatan yang telah dibangun oleh masyarakat sendiri sehingga masyarakat mampu mengembangkan kapasitasnya sendiri.  Wujud nyata asas ini ialah perlunya lembaga-lembaga pemerintah, lembaga swasta, dan lembaga swadaya masyarakat sekaligus merupakan upaya mengurangi kerentanan yang ada (Kirana cit. Sunarto et al., 2018).

Pada tataran inilah peran penting perguruan tinggi untuk meningkatkan kapasitas masyarakat terutama dalam melakukan mitigasi bencana. Perguruan tinggi memiliki amanat untuk menerapkan Tri Dharma yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, dimana sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat, perguruan tinggi memiliki kewajiban dalam mencerdasakan kehidupan bangsa dan meningkatakan kesejahteraan masyarakat dengan menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi di tengah masyarakat (Paripurna et al., 2019).


Urgensi Tanggap Bencana

Masyarakat merupakan aktor utama yang merasakan langsung dampak dari bencana, perlu dibangun bersama upaya tanggap darurat terhadap bencana. Dampak sebuah bencana akan menjadi semakin parah ketika adanya peningkatan jumlah populasi penduduk di daerah rawan bencana, rendahnya tingkat kesiapsiagaan dan mitigasi di tingkat pemerintahan serta rendahnya kesadaran masyarakat dalam upaya mempersiapkan diri menghadapi bencana (Farhi, 2012).

Pentingnya kesadaran setiap warga untuk mengetahui tentang tanggap darurat bencana  dinilai sangat penting, agar jika sewaktu- waktu terjadi bencana, maka harapannya setiap warga tahu apa yang harus dilakukannya, setidaknya hal tersebut dapat mengurangi dampak yang timbul akibat bencana  tersebut (Prihatmaji et al., 2013).

Pada dasarnya bencana merupakan fenomena alam yang kita tidak tahu kapan bisa terjadi, maka selayaknya bagi masyarakat yang hidup di tengah-tengah fenomena tersebut untuk dapat memahami karakteristik fenomena tersebut sehingga tidak menjadi bencana menimbulkan korban jiwa) bagi masyarakat. Dengan adanya program penyuluhan  dapat memberikan sedikit pengetahuan atau sedikit merefresh pengetahuan masyarakat tentang tanggap darurat bencana (Prihatmaji et al., 2013).

Kesadaran untuk tanggap dalam menghadapi bencana alam ini harus ditingkatkan lagi, untuk meningkatkan pemahaman tentang cara menghadapi bencana alam pada masyarakat khususnya untuk anak-anak, mengingat Indonesia merupakan negara yang akrab dengan bencana alam. Juga anak-anak rentan kerap menjadi korban jiwa, baik disebabkan oleh bencana alam maupun penyakit dampak bencana alam itu sendiri, maka dari itu dibutuhkan suatu media edukasi bagi anak-anak, untuk mengetahui tentang cara mengantisipasi bencana alam (Lestari, 2017) sehingga mereka siap untuk selamat.

Menurut Dr. Kartini Kartono, seorang penulis buku psikologi anak, bahwa anak diusia 8-12 tahun, memiliki minat di berbagai macam aktivitas, selain itu anak di usia ini memiliki intensitas ingatan paling besar dan kuat, jika dibandingkan dengan balita. Menurut beliau, balita memang cepat mengenal lingkungan tempat tinggalnya, akan tetapi pengenalan tersebut tidak lengkap, belum terperinci dan balita masih memiliki ingatan yang samar-samar. Beberapa hal dalam buku psikologi anak ini dapat menjadi salah satu acuan pertimbangan dalam membuat media edukasi yang interaktif untuk anak-anak. Salah satu media yang mampu menyampaikan informasi dengan efektif adalah buku ilustrasi yang interaktif, buku juga dapat digunakan untuk jangka waktu yang lama dengan informasi yang banyak (Lestari, 2017).

 Anak-anak yang juga merupakan subyek dalam upaya mengantisipasi bencana alam, dimana pemahaman akan cara mengantisipasi bencana alam masih rendah. Pengetahuan yang rendah terhadap bencana ini kemudian mengakibatkan tidak adanya kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana, akibatnya tiap kali terjadi bencana, banyak korban jiwa yang berjatuhan dan sebagian korban adalah kategori kelompok dengan tingkat kerentanan yang cukup tinggi, yaitu kelompok anak-anak. Anak-anak rentan akan penyakit ataupun menjadi korban jiwa karena tiap kali bencana terjadi, mereka biasanya tidak mengetahui cara menyelamatkan diri (Talita, 2010).


Menjaga Lingkungan melalui kearifan lokal

Kearifan lokal merupakan wujud dari perilaku komunitas atau masyarakat tertentu sehingga dapat hidup berdampingan alam/ lingkungan tanpa harus merusaknya. Prawiladilaga cit. Sufia et al. (2016) menguraikan bahwa kearifan lokal merupakan suatu kegiatan unggulan dalam masayarakat tertentu, keunggulan tersebut tidak selalu berwujud dan kebendaan, sering kali di dalamnya terkandung unsur kepercayaan atau agama, adat istiadat dan budaya atau nilai-nilai lain yang bermanfaat seperti untuk kesehatan, pertanian, pengairan, dan sebagainya. Merujuk pengertian tersebut dapat dijelaskan pula bahwa kearifan lokal sudah mengakar, bersifat mendasar, dan telah menjadi wujud perilaku dari suatu warga masyarakat guna mengelola dan menjaga lingkungan dengan bijaksana.

Kearifan lokal menjadi salah satu hal yang harus diperhatikan dalam kegiatan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Hal ini tercantum dalam UU No. 32 Tahun 2009 bahwa perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup meliputi perencanaan, pemanfaatan, pengendalian, pemeliharaan, pengawasan, dan penegakan hukum dimana seluruh kegiatan yang berhubungan dengan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup harus memperhatikan beberapa hal diantaranya: (1) keragaman karakter dan fungsi ekologis; (2) sebaran penduduk; (3) sebaran potensi sumber daya alam; (4) kearifan lokal; (5) aspirasi masyarakat; dan (6) perubahan iklim (Maridi, 2015).

Kekuatan budaya ini menjadi faktualitas yang perlu disosialisasikan dan diinternalisasikan melalui suatu wahana sistemik berupa tulisan ilmiah. Disebutkan oleh Ardelt (2004) bahwa sesuatu kearifan tidak dapat dilepaskan dari penghayatnya karena selalu dimengerti pada tataran eksperiensial. Penghayatan nilai-nilai suatu kearifan lokal dapat menjadi kesadaran yang diwujudkan dalam sikap dan perilaku (Sari et al., 2018).

Salah satu kearifan lokal dalam hal menjaga kelestarian hutan yang membuat penulis terkesan adalaha adat yang dimiliki oleh masyarakat di Desa Ciomas, Ciamis, Jawa Barat. Desa Ciomas yang secara geografis berada di kaki gunung Sawal (1764 mdpl) ini memiliki satu adat budaya yang begitu sistematis dan terprogram yang berkaitan dengan pelestarian hutan (Rapanna, 2016).

Masyarakat di Desa ini memiliki satu kearifan lokal warisan nenek moyang mereka mengenai pelestarian lingkungan yang sampai saat ini masih dengan teguh mereka jaga. Salah satunya adalah dengan masih menetapkannya Leuweung Larangan (hutan larangan) di kawasan gunung Sawal sebagai tempat yang harus betul-betul dijaga kelestariannya (Rapanna, 2016).

Akan tetapi posisi kearifan lokal saat ini berada dalam posisi yang lemah. Arus kapitalisme lebih mendominasi dalam sendi-sendi kehidupan komunitas masyarakat. Dalam pandangan kapitalisme, analisis untung dan rugi lebih dominan dan lebih penting daripada dari mana sumber pengetahuan tersebut berasal. Berapa banyak karya komunitas lokal kita yang hilang oleh arus perdagangan kapitalisme yang sangat tidak berpihak pada komunitas lokal itu sendiri. Dengan perkembangan zaman dan kemajuan peradaban umat manusia yang saat ini memasuki milenium ketiga telah menyebabkan terjadinya proses penghancuran kearifan tradisional yang ditandai dengan perubahan tatanan sosial, kurangnya nilai humanis, kemiskinan moral, sifat ketergantungan atau berkurangnya kemandirian masyarakat dan terdegradasinya sumberdaya alam dan lingkungan yang merupakan pendukung kehidupan manusia. Hal ini juga dipengaruhi oleh sikap masyarakat Indonesia yang belum mampu menjaga budaya, moral, dan sikap terhadap lingkungan sekitar mereka. Hal tersebut disebabkan, antara lain oleh tidak adanya penghargaan dan pengakuan terhadap nilai-nilai kearifan tradisional, adanya kecenderungan globalisasi dunia yang dapat menembus batas-batas negara sampai ke level komunitas suatu kampung (Thamrin, 2013).


Terakhir, menyingkap kebenaran positif 

Jika krisis merupakan sesuatu yang buruk, sebuah bencana pastilah lebih buruk. Namun, bencana menyingkap kebenaran-kebenaran positif mengenai perilaku manusia. Seperti halnya dalam krisis, bencana mampu mengembangkan kualitas-kualitas terbaik kita sebagai manusia dan makhluk sosial. Begitu pula dengan krisis yang kita alami (Day, 2007).

Banyaknya bencana tidak boleh membuat bangsa semakin lemah. Bencana bisa membuat bangsa makin kuat dan tangguh apabila bersungguh-sungguh belajar dan memperbaiki diri. Tidak bijaksana jika sesama bangsa saling menyalahkan dan menghakimi, baik secara teologis maupun politis. Musibah yang terjadi pada tahun politik ini, hendaknya menjadi momentum untuk berbagi, belajar, dan bekerja sama, apa pun agama, partai, dan siapa pun pilihan presidennya (Mu'ti, 2019).

Bumi adalah tuan rumah. Keberadaannya lebih dulu dari kita. maka, kita merupakan tamu. Sebagain tamu kitalah yang mestinya menjaga. Kondisi alam dengansegala mekanismenya tidak mungkin kita rekayasa. Upaya paling logis adalah meminimalisir dampak kerusakan apabila bencana menimpa.Tindakkan kita yang harus terus dilakukan adalah menata ruang secara bijak, sosialisai dan simulasi penanganan bencana dan upaya-upaya  inovasi teknologi untuk mendeteksi dini bencana yang melanda. Berdiam diri tanpa belajar pola-pola dan tanda-tanda bencana layaknya membiarkan anak kecil bermain di pinggir kolam yang dalam (Anonim, 2017).

Kita sering sekali takut dengan bencana, Indonesia  memang sangat rentan terjadinya bencana maka kedepan kita harus lebih semangat lagi membangun karakter masyarakat dengan gerakan “mari bersahabat dengan bencana” jangan kita lari dari bencana tapi terus kita cari solusi yang terbaik untuk masyakarat agar tidak takut dan panik dalam menghadapi bencana, terkadang yang merusak bumi itu karena ulah manusia juga ayo kita kampanye selamatkan bumi dari oknum manusia yang tidak bertanggung jawab (Jumaidir, 2018).


"Tulisan ini diikustertakan dalam Lomba Blog Kreativitas Kebencanaan Tangguh Award 2019"

#TangguhAwards2019 #KitaJagaAlam #AlamJagaKita #SiapUntukSelamat #BudayaSadarBencana



Sumber Pustaka :

Adi. 2016. TTX Menghadapi Ancaman Bencana Gempabumi dan Tsunami.<https://www.bnpb.go.id/ttx-menghadapi-ancaman-bencana-gempabumi-dan-tsunami>. Diakses tanggal 10 September 2019.

Anonim. 2017. ‘Bersahabat’ dengan Bencana Alam. <https://monitor.co.id/2017/12/19/bersahabat-dengan-bencana-alam/>. Diakses tanggal 10 September 2019.

Astuti, I. 2019. Kearifan Lokal dan Peran Pemda Penting untuk Mitigasi Bencana.<https://mediaindonesia.com/read/detail/246210-kearifan-lokal-dan-peran-pemda-penting-untuk-mitigasi-bencana>. Diakses tanggal 10 September 2019.

Binawan, Al. A. L. 2010. Homo Eco-Religiosus : Sebuah Sharing Permenungan, Hipotesis untuk Diskusi. Diskursus Vol. 9  No. 2 : 193-211.

Chaskin, R. J., P. Brown, S. Venkatesh, dan A. Vidal. 2001. Building Community Capacity. Aldine De Gruyter. New York.

Day, L. 2007. Selamat Datang Krisis : Keluar dari Jurang Kepedihan Menuju Kebahagiaan Sejati.  PT Mizan Publika. Jakarta.

Desfandi, M. 2014. Urgensi Kurikulu Pendidikan Kebencanaan Berbasis Kearifan Lokal di Indonesia. Sosio Didaktika Vol. 1 No. 2 : 191-198.

Dewi, P. P. 2012. Mencintai Bumi, Mencintai Ibu.<https://www.kompasiana.com/prapuspa/5517e6daa333117107b66293/mencintai-bumi-mencintai-ibu>. Diakses tanggal 7 September 2019.

Farhi, Z. 2012.  Tingkat Kerentanan dan  Indeks Kesiapsiagaan Masyarakat terhadap Bencana Tanah Longsor di Kecamatan BantarKawung Kabupaten Brebes. Majalah Geografi Indonesia Vol. 26 No. 1 : 80 ‐ 97.

Firmansyah, R. 2018. Peringati Hari Kesiapsiagaan Bencana, DT Peduli Gelar Seminar Nasional.<http://www.prfmnews.com/berita.php?detail=peringati-hari-kesiapsiagaan-bencana-dt-peduli-gelar-seminar-nasional>. Diakses tanggal 10 September 2019.

Frick, H. dan T. H. Mulyani. 2006. Seri Pengetahuan Lingkungan-Manusia-Bangunan : Pedoman Bangunan Tahan Gempa. Kanisius. Yogyakarta.

Galeshita, A. 2019. 10+ Cara ‘Berteman’ dan Hidup Berdampingan dengan Bencana Ala Jepang. Semua Warganya Diajari dari TK : Cara Jepang Mengatasi Bencana Alam. < https://www.hipwee.com/feature/10-cara-berteman-dan-hidup-berdampingan-dengan-bencana-ala-jepang-semua-warganya-diajari-dari-tk/>. Diakses tanggal 8 September 2019.

Hediarto, I. 2016.  Optimalisasi Peran Kodim dalam Penanganan Tanggap Darurat Bencana Alam dam Implikasinya terhadap Ketahanan Wilayah : Studi Di KODIM 0613/Ciamis, Jawa Barat.  Jurnal Ketahanan Nasional, Vol. 22 No. 3 : 321-333.

Husha, E. K. 2018. Yuk Bersahabat dengan Bencana.<https://indopos.co.id/read/2018/10/17/152628/yuk-bersahabat-dengan-bencana/>. Diakses tanggal 10 September 2019.

Jumaidir, D. 2018. Bersahabat Dengan Bencana.<https://www.acehtrend.com/2018/01/01/bersahabat-dengan-bencana/>. Diakses tanggal 10 September 2019.

Lestari, D. S. 2017. Perancangan Media Edukasi Tanggap Menghadapi Bencana Banjir untuk Anak-anak di Dayeuhkolot. E-Proceeding of Art & Design  Vol. 4 No. 3 : 759-766.

Marga, G. 2013. Secangkir Teh Hangat Kedamaian. PT Elex Media Komputindo. Jakarta.

Maridi. 2015. Mengangkat Budaya dan Kearifan Lokal dalam Sistem Konservasi Tanah dan Air. Proceeding Biology Education Conferenece Vol. 12 No. 1 : 20-39.

Muslimin. 2018. Sosialisasi Tanggap Bencana pada Masyarakat di Kec. Lemito, Kab. Pohuwanto  untuk Mewujudkan Desa Tangguh Bencana melalui Pendekatan Komunikasi Efektif dengan Bahas yang santun. <http://repository.ung.ac.id/get/singa/1/1545/SOSIALISASI-TANGGAP-BENCANA-PADA-MASYARAKAT-DI-KEC-LEMITO-KABPOHUWATO-UNTUK-MEWUJUDKAN-DESA-TANGGUH-BENCANA-MELALUI-PENDEKATAN-KOMUNIKASI-EFEKTIF-DENGAN-BAHASA-YANG-SANTUN.pdf>. Diakses tanggal 14 September 2019.

Mu'ti, A. 2019. Bencana yang Mempersatukan. <https://nasional.sindonews.com/read/1367235/18/bencana-yang-mempersatukan-1546387455>. Diakses tanggal 10 September 2019.

Ni'am, A. M. 2018. Menjumput Hikmah dari Musibah di Lombok dan Sulawesi Tengah. <https://www.nucare.id/berita/opini/menjumput-hikmah-dari-musibah-di-lombok-dan-sulawesi-tengah>. Diakses tanggal 10 September 2019.


Paripurno, E. T., K. Munadi, S. Koesuma, N. Ismail, dan D. Mardiatmo. 2019. Panduan Pembelajaran Kebencanaan untuk Mahasiswa di Perguruan Tinggi. Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan merupakan unsur pelaksana di Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia. Jakarta.

Prihatmaji, Y. P.,  E. Widodo,  dan I. Nugroho. 2013. Penyuluhan Peningkatan Keadaran Masyarakat terhadap Tanggap  Bencana (Khususnya Longsor). Jurnal Inovasi dan Kewirausahaan Vol. 2 No. 2 : 119-123.

Purningsih, D. 2019. Kearifan Lokal, Mitigasi Bencana yang Terlupakan.<https://www.greeners.co/berita/kearifan-lokal-mitigasi-bencana-yang-terlupakan/>. Diakses tanggal 10 September 2019.

Rachmawati, T. A. , D. Rahmawati, A. Susilo. 2018.  Pengurangan Risiko Bencana Berbasis Tata Ruang. Universitas Brawijaya Press. Malang.

Rapanna, P. 2016. Membumikan Kearifan Lokal Menuju Kemandirian Ekonomi. CV Sah Media.  Makassar.

Saluki. 2015. Peningkatan Kapasitas Kelompok Masyarakat Siaga Bencana dalam  Mengurangi Risiko Bencana Gunung Tangkubanparahu Kabupaten Bandung Barat. Jurnal Ilmiah Pekerjaan Sosial Vol. 14 No. 2 : 161-173.

Santoso, T. 2012.   Tanggap Bencana dengan Kearifan Lokal. <https://aceh.tribunnews.com/2012/04/22/tanggap-bencana-dengan-kearifan-lokal>. Diakses tanggal 10 September 2019.

Sari, R. H., T. Husin, dan Syamsidik. 2018. Kearifan Lokal Smong Masyarakat Pulau Simeulue dalam Kesiapsiagaan Bencana 12 Tahun PascaTsunami. Jurnal Dialog Penanggulangan Bencana Vol. 9  No. 1 : 1-8.

Sidik, J. M. 2010. Alam itu Ibu, "Mother of Earth". <https://www.antaranews.com/berita/223119/alam-itu-ibu-mother-of-earth>. Diakses tanggal 7 September 2019.

Soedrajat. A. 2017. Toleransi dengan Alam. <https://kumparan.com/aming-soedrajat/toleransi-dengan-alam>. Diakses tanggal 17 September 2019.

Sufia, R., Sumarno, dan Ach. Amirudin. 2016. Kearifan Lokal dalam Melestarikan Lingkungan Hidup : Studi Kasus Masyarakat Adat Desa Kemiren Kecamatan Glagah Kabupaten Banyuwangi. Jurnal Pendidikan Vol. 1 No. 4 : 726-731.

Sukmana, O. 2018. Pengetahuan Manajemen Bencana dan Kearifan Sosial di Kabupaten Malang. Sosio Konsepsia  Vol. 7 No. 3 : 190-204.

Sunarto, M. A. Marfai, D. Mardiatno. 2018. Penaksiran Multirisiko Bencana di Wilayah Kepesisiran Parangtritis : Slam Era Teknologi Informasi dan Komunikasi. UGM Press. Yogyakarta.

Sururi, A. 2014.  Menggapai Pelestarian Lingkungan  Hidup di  Indonesia : Studi Perbandingan Etika Islam dan Etika Ekofeminisme. Fikrah Vol. 2 No. 1 : 95-122.

Talita, K. 2010. Perancangan Komunikasi Visual Publikasi Buku Panduan Menghadapi Bencana untuk Anak-anak “Yuk Kita Siaga!”. Tugas Akhir. Jurusan Desain Komunikasi Visual . Fakultas Ilmu Komunikasi dan Multimedia. Universitas Bina Nusantara. Jakarta.

Thamrin, H. 2013. Kearifan Lokal dalam Pelestarian Lingkungan. Kutubkhanah Vol. 16 No. 1 : 46-59.
Tjandra, K. 2018. Empat Bencana Geologi yang Paling Mematikan. UGM PRESS. Yogyakarta.
Walhi. 2007. Bersahabat Dengan Ancaman (Modul Guru). Grasindo. Jakarta.

Widuatie, Mrr. R. E. dan S. A. Budiman. 2016. Peningkatan Kapasitas Masyarakat Rawan Bencana Berbasis Komunitas : Studi Kebencanaan di Desa Pakis Kecamatan PAnti Kabupaten Jember.<http://repository.unej.ac.id/handle/123456789/73292>. Diakses tanggal 20 September 2019.








Industri minyak kelapa sawit, sebagai salah satu industri utama di Indonesia, yang memiliki keterkaitan yang erat dengan SDGs, dan telah mencatat peningkatan kinerja produksi, dan nilai ekspor selama tahun 2017, terus memberikan sumbangsih besar bagi pencapaian SDGs (Gapki, 2018).

Hasil analisis kuantitatif Lembaga Penelitian Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI) menyatakan bahwa ada kaitan yang kuat antara industri kelapa sawit dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Hasil ini disampaikan dalam dalam konferensi 14th Indonesian Conference Palm Oi (IPOC)l di Nusa Dua, Bali, Kamis (1/11/2018) (Rosmayanti, 2018). 



Hasil riset menunjukkan, dari 10% kenaikan jumlah lahan perkebunan kelapa sawit, ternyata berpengaruh terhadap 0,05% penurunan tingkat kemiskinan, sebesar 0,02% menurunkan tingkat pengangguran, 0,03% peningkatan jumlah lulusan sekolah menengah ke atas, 0,12% peningkatan konsumsi non-makanan, serta sebesar 0,21% pada peningkatan akses air bersih (Rosmayanti, 2018). 

Peningkatan produktivitas kelapa sawit dapat memberikan kontribusi terhadap percepatan pencapaian SDGs. Hal ini disebabkan beberapa tujuan yang ada di dalam SDGs dapat dicapai melalui industri kelapa sawit. Tujuan No. 1, No Poverty (tanpa kemiskinan), yakni menuntaskan kemiskinan di segala tempat.Tujuan No. 2, Zero Hunger (tanpa kelaparan), yakni mengakhiri kelaparan, dengan adanya peningkatan produktivitas kelapa sawit memberikan pasokan cukup bagi industri makanan, termasuk minyak goreng dan olahan lainnya. Tujuan No. 13, Climate Action (penanganan perubahan iklim), yakni mengambil langkah penting untuk melawan perubahan iklim dan dampaknya.Kelapa sawit memiliki kemampuan menyerap karbondioksida dari atmosfer, sehingga dapat mengurangi emisi yang ada di bumi. 

Selain itu produktivitas kelapa sawit mendukung moratorium hutan primer dan mendukung penanganan pencegahan kebakaran hutan. Tujuan No. 8, Decent Work and Eonomic Growth (pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi), yakni membangun pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, menciptakan lapangan pekerjaan dan pekerjaan yang layak untuk semua. Sebagai industri kaya akan olahan, tentu memerlukan pekerja yang tidak sedikit sehingga menyediakan lapangan pekerjaan bagi jutaan orang. Selain itu, sektor kelapa sawit juga memberikan kontribusi terhadap tujuan No. 17, Partnership for The Goals (kemitraan untuk mencapai tujuan), yakni menghidupkan kembali kerja sama global demi pembangunan berkelanjutan (Saputra, 2019).

Indonesia harus membenahi kinerja industri minyak sawit agar tidak menjadi follower Malaysia dan permanen sebagai pengekspor minyak sawit atau penyedia bahan baku biodiesel. Industri sawit perlu langkah revitalisasi nyata. Industri ini tak akan beranjak maju karena skim pendanaan, penelitian dan pengembangan, pasar dan harga serta kelembagaan yang tidak tertata dengan baik (Nuryanti, 2008). 

Selain itu juga beredar hoaks mengenai industri sawit di kalangan masyarakat. Banyak isu hoaks yang dialamatkan kepada sawit. Ada beberapa pihak yang menyalahgunakan media sosial untuk melakukan black campaign. Media dan humas pemerintah seyogyanya  memerangi hoaks tersebut (Yusfita, 2019).

Sudah saatnya Indonesia memandang serius dan melakukan upaya nyata untuk melawan Isu/kampanye negatif tersebut dengan membuka mata dunia tentang fakta dan kemajuan yang telah dicapai di lapangan. Merupakan komitmen kuat Pemerintah Indonesia untuk tetap menjaga kelestarian lingkungan dengan tetap memberikan ruang bagi industri sawit lestari (sustainable) demi kesejahteraan Bangsa Indonesia (Gibbons, 2018).

Menilik problematika yang hadir perihal komoditas sawit, terdapat beberapa langkah yang dapat dilakukan pemerintah dalam menunjang percepatan pencapaian SDGs. Kasus tuduhan deforestasi yang terjadi dapat terhindarkan manakala penggunaan lahan untuk penanaman sawit dialihkan dari hutan hujan tropis menjadi ladang Sabana, seperti yang dilakukan oleh Kolombia. Masyarakat juga perlu diedukasi terkait peningkatan nilai tambah dan daya jual sawit di pasar dunia, sangat diperlukan penyuluhan mengenai penggunaan dan pemanfaatan lahan, serta minyak sawit yang ramah lingkungan bagi masyarakat, agar sumberdaya komoditas sawit dapat termanfaatkan dengan maksimal dan mempunyai kekuatan pasar yang kuat dibanding dengan minyak nabati lain (Haryadi, 2019).

Jadi, dapat disimpulkan bahwa "Sawit  Menguatkan SDGs Indonesia" atau dengan kata lain Jika Sawit Kuat maka menambah akselerasi  Pencapaian SDGs. Sawit Kuat, maka Indonesia menjadi Kuat nan Hebat. Kuat baik dari ekonomi, sosial, dan lingkungan .



Sumber Pustaka :
Gapki. 2018.  Industri Kelapa Sawit Adalah Kunci Bagi Pencapaian SDGs.<https://gapki.id/news/6270/industri-kelapa-sawit-adalah-kunci-bagi-pencapaian-sdgs>. Diakses tanggal 13 September 2019.

Gibbons, Z. 2018. Indonesia Sampaikan Informasi Sawit Lestari ke Nowergia .<https://www.antaranews.com/berita/757267/indonesia-sampaikan-informasi-sawit-lestari-ke-norwegia>. Diakses tanggal 11 September 2019.

Nuryanti, S. 2008.  Nilai Strategis Industri Sawit. Analisis Kebijakan Pertanian, Volume 6 No. 4, Desember 2008 : 378 - 392.

Rosmayanti. 2018. Begini Kontribusi Industri Sawit terhadap Pencapaian SDGs.<https://www.wartaekonomi.co.id/read201844/begini-kontribusi-industri-sawit-terhadap-pencapaian-sdgs.html>. Diakses tanggal 13 September 2019.

Saputra, A. 2019. Optimalisasi Lahan Gambut Melalui Peningkatan Produktivitas Sawit di Sumsel Sebagai Solusi Percepatan Pencapaian SDGs.<http://globalplanet.news/berita/19751/optimalisasi-lahan-gambut-melalui-peningkatan-produktivitas-sawit-di-sumsel-sebagai-solusi-percepatan-pencapaian-sdgs>. Diakses tanggal 11 September 2019.

Yusfita,  R. D. 2019. Kebun Kelapa Sawit dan Industri Minyak Sawit Sumbangsih Devisa Ekspor. <https://padang.tribunnews.com/2019/08/15/gapki-kebun-kelapa-sawit-dan-industri-minyak-sawit-sumbangsih-devisa-ekspor>. Diakses tanggal 13 September 2019.


Pernahkah kamu mendengar tentang “Meet Amy, Debbie, Inga, Mia, Erica, Eva dan Cora” ? Mereka bukanlah anggota girlband tetapi nama-nama yang diberikan kepada asisten digital perusahaan bank. Ya, terobosan terbaru ini dinamakan dengan CHATBOT. Menggunakan asisten digital dapat memotong biaya bagi perusahaan, utamanya bagi mereka yang telah memiliki basis nasabah luas dan pengeluaran yang terhitung besar, seperti asuransi, telepon dan masih banyak lagi lainnya (IndahHikma, 2019).

Saat ini agen kecerdasan buatan, chatbot dan asisten digital sudah banyak dipakai. Seperti Alexa milik Amazon, Alphabet dari GoogleNow, Siri di Apple dan bot di Facebook Messenger. Semua program ini berjalan dengan artificial intelligence (AI) yang mencoba mengerti perilaku manusia, menerjemahkan kebutuhan mereka dan bahkan membuat keputusan untuk manusia  (Qerja, 2016).


Gambar 1. Contoh Chatbot. Sumber online: http://botika.

Teknologi chatbot ini sangat berguna bagi perusahaan-perusahaan kecil untuk membangun hubungan baik dengan pelanggan pada masa awal pertumbuhannya. Perusahaan-perusahaan ini dapat menghemat pengeluaran mereka dengan menggunakan chatbot untuk merespons pelanggan (Gunadi, 2018).

Tak heran jika banyak perusahaan berbondong-bondong mengadopsi chatbot. Di Indonesia, hampir semua perusahaan telekomunikasi mengadopsi chatbot. Chatbot menghemat biaya operasional perusahaan karena dapat menggantikan peran operator call center untuk menjawab pertanyaan dasar dan repetitif (Setyowati, 2018).

Hal yang lebih mengerikan adalah, chatbot akan menggeser pekerjaan petugas customer care /customer service. Perusahaan tentunya lebih memilih berinvestasi dengan sistem chatbot, dibandingkan harus mengeluarkan dana untuk menggaji karyawan, yang akan membutuhkan lebih banyak tenaga kerja, ketika trafik semakin besar. Chatbot tidak mengenal cuti, bisa bekerja 24 jam, tidak akan demo, tidak terpengaruh oleh mood, tidak perlu training, tidak perlu mencari pengganti ketika ada yang resign dll (Dewanto, 2017).

Ini akan jadi ancaman serius, ketika semakin banyak chatbot dimanfaatkan untuk customer care, jumlah pekerja customer care/customerservice yang jumlahnya bisa mencapai ribuan di perusahaan besar, misal di perbankan dan telekomunikasi. Bayangkan bila mereka digantikan oleh chatbot seluruhnya (Dewanto, 2017).


Customer Service Ujung Tombak Perusahaan

Seorang Customer Service akan terkait langsung dengan peran penjaga kepercayaan pelanggan maupun klien. Melalui interaksi divisi ini dengan pelanggan yang berkelanjutan, Customer Service mampu meninggalkan kesan mendalam mengenai baik buruknya pelayanannya. Tidak jarang jika pelayanan sebuah perusahaan untuk pelanggan dan kliennya sangat baik, mereka bersedia membayar lebih dan lebih loyal hanya untuk suatu produk yang bisa didapatkan di tempat lain dengan harga lebih murah (Annisa, 2019).

Pelayanan kepada pelanggan atau customer service mempunyai peran penting dalam kemajuan bisnis. Customer service atau yang biasa disingkat CS, adalah bantuan dan saran yang diberikan oleh pihak penjual kepada pihak pembeli yang menggunakan produk atau layanannya. Pada bisnis apapun termasuk bisnis online, CS punya fungsi penting dalam menjaga hubungan baik dengan konsumen (Andry, 2017).

Percaya atau tidak, customer service adalah satu-satunya harapan pelanggan di saat menghadapi masalah dengan perusahaan. Pelanggan tidak mungkin bisa langsung datang ke kantor perusahaan untuk menyelesaikan masalah yang mereka hadapi. Dengan customer service perusahaan, pelanggan berharap apa yang menjadi masalah mereka dapat diatasi dengan cepat. Sayangnya, di Indonesia customer service masih banyak yang tidak memahami arti posisinya yang sangat vital ini untuk pertumbuhan bisnis perusahaannya (Sales1CRM, 2018).

Terkait dengan fungsi customer service yang melayani keluhan pelanggan, hal tersebut juga dapat dijadikan sebagai kontrol kepuasan konsumen. Hal itu dapat dilakukan saat sang customer service mampu memetakan jenis keluhan yang selama ini didapatkannya. Semakin banyak konsumen yang puas dengan layanan sebuah produk dan layanan customer service tentunya akan meningkatkan laba dari perusahaan yang bersangkutan. Oleh karena itu, untuk menjalankan peran customer service dengan baik, orang yang bertugas di bidang customer service perlu memiliki kemampuan analisis, keramahan, maupun problem solving agar para konsumen semakin puas dan merasa aman (Uang Teman, 2018).

Daya saing yang semakin meningkat menjadikan customer service sebagai salah satu tolak ukur dan ujung tombak dari perusahaan tersebut. Dan para pihak perusahaan pun semakin meningkatkan kinerja customer service agar tetap eksis di kalangan masyarakat  (NetCampus, 2018).

Jika dulu costumer service hadir secara konvensional menggunakan nomor Hotline. Seiring berkembangnya dunia digital, costumer service pun menjelma ke dalam berbagai “wujud”. Mulai dari e-mail, sosial media, hingga  (Tim iPrice, 2018) CHATBOT.


Apa Itu Chatbot ?

Perkembangan teknologi informasi berbasis komputer yang sangat cepat telah membuat banyak perubahan dalam sendi kehidupan manusia. Salah satu perkembangan teknologi terkini adalah kecerdasan buatan (artificial inteligence). Dengan adanya kecerdasan buatan, komputer dapat melakukan tugas tertentu seperti yang dilakukan oleh manusia seperti robot chatting (chatbot). Robot chatting (chatbot) yaitu sistem yang mengadopsi pengetahuan manusia ke komputer, agar komputer dapat melakukan percakapan dengan pengguna  (Irmawati, 2011).

Chatbot bekerja untuk menggantikan peranan manusia dalam melayani pembicaraan melalui aplikasi pesan. Ia menjawab kalimat demi kalimat yang dituliskan orang yang berada di ujung satunya. Tentu jika orang diujung lainnya merasa dirinya dilayani manusia, itu artinya kesuksesan bagi chatbot . Chatbot memungkinkan komputer atau mesin menggantikan peran manusia dalam membalas percakapan di sisi satunya. Chatbot memahami, belajar, dan berinteraksi layaknya manusia. Semua itu berkat kemampuannya berevolusi dan berkembang (Ryza, 2017).


Gambar 2. Contoh Produk Chatbot. Sumber : http://botika.online


Penggunaan chatbot ini sudah tidak asing lagi. Karena semua ecommerce pasti menggunakan aplikasi ini. Untuk memudahkan pelayanan ke konsumen. Mungkin selama ini, yang ada ajak chat di ecommerce bukanlah manusia tapi program robot. Tetapi penggunaan chatbot ini, memang memberikan banyak keuntungan bagi pebisnis. Terutama untuk meningkatkan penjualan. Jika anda ingin menggunakan aplikasi ini, harus tahu apa saja kelebihannya (Management HSM, 2018).

Chatbot dapat menanggapi pertanyaan jauh lebih cepat daripada agen manusia. Robot ini dirancang untuk menangani pertanyaan standar dan mengotomatiskan proses pelayanan, dan tidak didesain untuk menjawab keluhan yang rumit (Koran Jakarta, 2018).

Chatbot juga dapat digunakan untuk mengurangi delay waktu tunggu saat customer menanyakan suatu produk kepada penjual seperti jumlah stok, ketersediaan warna dan produk sejenis yang mungkin harus dilakukan pencarian manual oleh admin. Dengan adanya chat bot, penjual bisa menghemat waktu dan mengurangi kehilangan customer karena terlalu lama dalam meberikan jawaban (Rahmad, 2019).

Menurut Majalah Forbes, chatbot merupakan kunci rahasia dalam meningkatkan customer experience. Laman ini menuliskan 3 alasan. Yaitu, Chatbot menyediakan layanan 24 jam, menyediakan pengalaman yang lebih personal, dan menyediakan percakapan yang bisa disesuaikan berdasarkan skala customer (Andini, 2019).

Kemampuan AI yang memberikan kecerdasan virtual kepada chatbot membuatnya bisa menilai jawaban yang paling tepat untuk pertanyaan yang dilontarkan kepadanya. Cara yang dipakai chatbot agar bisa mendapatkan jawaban terbaik adalah melalui keyword. Ya, dengan sistem pengoperasian yang sudah ditanamkan kepadanya, maka chatbot bisa melihat keyword yang diberikan kepadanya dan melihat mana jawaban yang paling dekat dengan keyword tersebut sehingga setiap pertanyaan yang diberikan bisa dijawab dengan cepat (Dewaweb, 2019).

Kini, Chatterbot atau Chatbot bahkan sudah dimplementasikan pada jejaring sosial, seperti Twitter dan Windows Live Messenger. Bahkan portal online populer seperti eBay dan PayPal juga menggunakan agen virtual multi bahasa untuk memudahkan penggunanya. Sebagai contoh, jika Anda ingin informasi cepat tentang kondisi cuaca saat ini, Anda dapat memulai percakapan dengan bot yang relevan dan akan menyediakan prakiraan cuaca seketika. Disinilah Anda telah berinteraksi dengan 'chatbot' (Symu, 2019).

Namun, atas kehadiran kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), kini chatbot punya kemampuan dengan rasa percakapan yang lebih natural. Dalam perkembangannya chatbot, chatbot sudah banyak digunakan antara lain sebagai command control, customer care, scripting engine, messaging application, virtual assistance, dan domain expert (Sopian, 2019).

Banyak lembaga keuangan besar sudah mengambil langkah ini. Misalnya, Capital One menggunakan chatbot Eno untuk membantu nasabahnya memeriksa rekeningnya termasuk status saldo dan melakukan transfer antar rekening. Bank of America meluncurkan chatbot Erica untuk membantu nasabahnya memeriksa saldo, membayar tagihan, dan memberikan jawaban atas pertanyaan terkait bank. Sementara Liberty Mutual juga memakai chatbot yang menawarkan fungsi serupa dengan penambahan pencegahan risiko penipuan (Akbar, 2019).


Chatbot Mengurangi Lahan Pekerjaan?

Peran chatbot tak hanya akan berguna bagi keseharian manusia, tetapi juga mampu diimplementasikan pada industri pekerjaan. Chatbot itu adalah salah satu dari kategori pengembangan kecerdasan buatan yang akan menciptakan disrupsi besar di banyak lahan bisnis. Ia akan menghubungkan brand dan konsumen lewat platform, bisa dibilang sebagai customer service digital (Reza, 2017).

Lantas, apa memang peran chatbot bakal menggantikan pekerjaan manusia ke depannya ? Bisa jadi. Chatbot mungkin bisa akan mengurangi lahan pekerjaan, tetapi bukan berarti produktivitas bisa menurun drastis (Reza, 2017).

Faktanya, 53% konsumen mengatakan mereka lebih suka menggunakan obrolan online sebelum menghubungi perusahaan untuk dukungan pelanggan. Di antara milenium, angka ini bahkan lebih tinggi. Alasan utamanya adalah kenyamanan obrolan online. Orang ingin tanggapan instan (Rahmad, 2019).

Tidak menutup kemungkinan chatbot kelak menggantikan peran customer service karena ini merupakan solusi alternatif. Ia menyontohkan bahwa di Jepang ada perusahaan yang menggunakan chatbot dan mereka bisa menekan pengeluaran hingga 90 persen.  Chatbot mungkin memang akan mengurangi jumlah karyawan, tetapi bukan berarti produktivitas jadi turun. Dulu petani masih bekerja secara manual, lalu setelah ada teknologi dan alat bantu jumlah petani memang jadi berkurang, tapi produktivitas bisa lebih meningkat (Ningrum, 2017).

Kendati layanan pelanggan (customer service) kini banyak menggunakan teknologi respons otomatis yang disebut bot, proses komunikasi yang terjadi sebenarnya tetap tak bisa lepas dari unsur manusia (Utami, 2018).  pada dasarnya asisten virtual atau chatbot bukan untuk menggantikan manusia tetapi untuk meningkatkan dan mengefisienkan kerja manusia tersebut  (Utami, 2018).

Meski secanggih apapun teknologi saat ini, konsumen tetap menginginkan manusia yang berhubungan dan berkomunikasi dengan mereka. Sehingga human-touch tetap jadi unsur yang paling penting. perusahaan kerap kesulitan untuk menyeimbangkan antara apa yang diinginkan oleh konsumen dan biaya yang harus ditanggung perusahaan. Jika hanya mengandalkan SDM seperti keinginan konsumen, biaya yang dikeluarkan akan besar (Utami, 2018).

Ya, memang chatbot dapat menjawab dengan cepat dan tepat untuk permasalahan yang sederhana, namun seringkali permasalahan yang dihadapi oleh pelanggan sangat kompleks. Di sini Customer Service jauh lebih unggul daripada chatbot (Paskalia, 2018).

Ketika pelanggan menghadapi masalah, hal yang paling penting sebenarnya bagi pelanggan adalah Customer Service yang dapat memahami mereka. Empati memainkan peranan yang sangat penting terutama ketika pelanggan mengalami kekecewaan atau bahkan frustasi karena permasalahan yang dihadapi, dan kemampuan untuk menunjukkan empati adalah sisi positif utama dari Customer Service manusia (Paskalia, 2018).

Sedangkan jika hanya menggunakan chatbot, terlalu rentan dan resiko salahnya juga tinggi karena bagaimanapun mesin tidak sama dengan manusia. Bot juga memiliki kemampuan komunikasi yang amat terbatas dan tak punya empati (Utami, 2018).

Chatbot  sensitif terhadap ejaan, setelah Anda membuat kesalahan ejaan, Anda akan membingungkan bot. Tapi tidak demikian halnya dengan manusia nyata di balik Live Chat. Mereka dapat memahami pertanyaan Anda meskipun ejaannya sedikit tidak jelas. Namun, Chatbot tidak  untuk menggantikan manusia (setidaknya tidak dalam waktu dekat) tetapi untuk membantu kita menghemat uang, waktu, dan energi (Vishnoi, 2019).

Dengan adanya digitalisasi berbagai sistem dalam customer service, tenaga SDM yang ada dapat dialihkan untuk layanan lainnya sehingga perusahaan juga dapat lebih efisien baik dari segi sumber daya maupun anggaran (Utami, 2018).

Secara keseluruhan, teknologi chatbot terlihat sangat menjanjikan, tetapi manusia masih lebih suka berbicara dengan sesama manusia lain. Manusia akan selalu mendambakan seseorang dengan kemampuan berempati dengan mereka. Ini termasuk kemampuan untuk membaca yang tersirat dan terhubung pada tingkat emosional (De, 2018).

Alasannya sangat sederhana, otak manusia mengandung miliaran sel saraf yang diatur dalam pola yang mengoordinasikan pikiran, emosi, perilaku, gerakan, dan sensasi. Merekam dan mempelajari sesuatu yang baru, memahami itu dan bereaksi terhadap situasi adalah keterampilan yang hanya dimiliki oleh manusia (Pandey, 2019).

Sekali lagi, apakah AI menggantikan peran manusia ?

Beberapa puluh tahun belakangan, manusia telah menyaksikan peningkatan signifikan dalam dunia teknologi. Hal ini diawali dengan kehadiran komputer, internet, internet of things (Iot), dan hingga saat ini ditambah dengan kehadiran artificial intelligence atau disingkat AI (Prayogo, 2017).

Teknologi artificial intelligence (AI) pertama kali dipopulerkan dalam berbagai film bergenre science fiction (sci-fi) seperti dalam film Iron Man di mana dalam film tersebut digambarkan Iron Man menanyakan berbagai hal melalui kecerdasan buatan. Saat ini teknologi tersebut sudah ada yaitu Chatbot (Prayogo, 2017).

Studi dari World Economic Forum mengungkapkan bahwa setengah dari pekerjaan kita akan digantikan oleh robot. Bahkan menurut data dari McKinsey Global Institute menunjukkan bahwa robot akan menggantikan 800 juta pekerjaan manusia di tahun 2030 .The Future of Jobs 2018 meramalkan robot dengan cepat menggantikan manusia dalam sektor akuntansi, manajemen klien, industri, pos, dan kesekretariatan (Ramadhan, 2019).

Pekerjaan-pekerjaan yang memerlukan keterampilan dan kreativitas akan terus meningkat bersamaan dengan meningkatnya jumlah penggunaan e-commerce dan media sosial apalagi robot tidak belum bisa menggantikan manusia dalam bidang keterampilan dan kreativitas (Ramadhan, 2019).

Salah satu pekerjaan yang akan tersingkirkan oleh robot juga adalah Customer Service atau Admin. Admin akan digantikan oleh Chatbot berupa Admin Otomatis dan Penjualan Otomatis baik berupa teks/chat/tertulis ataupun suara. Di Amerika Serikat, chatbot dengan suara ini telah menjadi tren dimana Google dan Amazon bersaing ketat di teknologi kecerdasan buatan ini (Ramadhan, 2019).

Biar bagaimanapun masih ada orang-orang yang lebih suka mengangkat telepon dan bicara langsung dengan customer service (manusia, bukan bot). Interaksi humanis yang dicari di sini. Pelanggan akan mendengar bagaimana intonasi dan cara bicara seorang operator yang percaya atau tidak dapat mempengaruhi keputusan pelanggan apakah akan meneruskan berbelanja atau tidak (Perdana, 2019).

Bahasa adalah bagian yang sangat penting dalam menciptakan persepsi pelanggan terkait produk bisnis maupun value perusahaan. Menggunakan bahasa positif selama berinteraksi dengan pelanggan dapat mempengaruhi respon mereka terhadap pelayanan yang diberikan oleh perusahaan. Misalnya saja ketika barang yang diinginkan oleh pelanggan ternyata stoknya habis, sebagai customer service yang baik pastinya  menggunakan bahasa positif dengan menghindari pemakaian kalimat “tidak” ataupun “jangan”, seperti “Produk yang Anda butuhkan akan tersedia minggu depan, tetapi saya bisa melakukan pemesanan untuk Anda sekarang sehingga ketika stok tersedia Anda bisa dengan segera mendapatkan produk tersebut (Pekku, 2016).   Bandingkan ini dengan mesin (AI),  tidak dapat diinstal kemampuan seperti ini.   Manusia memiliki kemampuan unik untuk memahami sesamanya dan bereaksi terhadap masalah secara spontan.

Pada sisi negatifnya, tidak semua tugas dapat diserahkan kepada bot untuk memutuskan. Tidak ada tingkat kecerdasan buatan yang dapat ditandingi dengan kemampuan manusia untuk menganalisis kondisi pasar tertentu dan membuat keputusan bisnis yang tepat. Ya, dari sudut pandang pengguna, bot memungkinkan solusi yang hampir instan untuk masalah mereka, tetapi pasti ada masalah yang memerlukan intervensi manusia untuk menyelesaikannya (Prasad, 2018).

Di dalam menjalankan bisnis, pasti ada saja masalah yang menimpa konsumen dan meminta pertanggung jawaban. Sayangnya ketika berhubungan dengan chatbot, maka bisa saja apa yang diinginkan oleh konsumen tidak bisa dijawab dan dipenuhi olehnya sehingga tidak memberikan rasa puas dan malah menambah masalah baru (Dewaweb, 2019).

Chatbots tidak sempurna dan teknologinya tidak cukup maju untuk memiliki pertukaran percakapan yang sempurna dan mirip manusia. Personalisasi masih terbatas dan untuk beberapa keputusan penting, manusia selalu merupakan pilihan yang lebih baik (Prasad, 2018).

Menurut saya, untuk saat ini chatbot tidak akan menggantikan manusia. Sementara fungsi-fungsi tertentu dapat diganti untuk memberikan interaksi yang lebih cepat dan efisien dengan pelanggan. Kemampuan chatbots untuk menangani obrolan dalam jumlah tak terbatas secara bersamaan adalah "alat pendukung/penunjang" yang fantastis. Tetapi sampai mereka mengembangkan empati, kepekaan dan keterampilan memecahkan masalah manusia, mereka tidak akan bisa menggantikan kita (Goes, 2019).

Jangan khawatir, peran manusia sejatinya tidak dapat tergantikan. Bahkan dengan masifnya penggunaan AI, bisnis yang selama ini dijalankan oleh banyak orang dapat menjadi lebih efisien, efektif dan juga cepat. Melalui AI juga, akhirnya lahir ekonomi baru, yang dinamakan ekonomi digital. Disamping itu, melalui pengembangan teknologi dimana AI termasuk didalamnya, berhasil menciptakan lapangan pekerjaan baru, seperti seperti pilot drone, pencipta konten AR/VR, gamer professional, digital marketing dan juga SEO specialist (Gito, 2019)

Lahirnya jenis pekerjaan baru itu merupakan bukti bahwa teknologi dan manusia bukanlah bersifat saling menggantikan, namun keduanya justru berhasil mencapai sinergi dan akhirnya memunculkan jenis pekerjaan baru,budaya baru dan juga pemikiran baru. Melalui ekonomi digital juga, tercipta ribuan lapangan pekerjaan setiap harinya, mulai dari di sektor e-commerce, periklanan, hiburan, content creator, pengembang aplikasi hingga pembayaran (Gito, 2019).


Apakah Chatbot benar-benar efektif ?

Dengan pertumbuhan popularitas platform pengiriman pesan saat ini dan menurunnya biaya penyimpanan di cloud, juga waktu implementasinya yang singkat, Chatbot muncul sebagai penyelamat. Dengan memperkenalkan agen digital atau "Chatbot" untuk berinteraksi dengan pelanggan, bank akan dapat meningkatkan pengalaman pelanggan mereka, mengurangi biaya layanan pelanggan manusia, merampingkan operasi mereka, dan melayani lebih banyak orang, dengan lebih cepat lewat berbagai saluran yang berbeda (Arifin, 2019).

Banyak lembaga keuangan besar sudah mengambil langkah ini. Misalnya, Capital One menggunakan chatbot Eno untuk membantu nasabahnya memeriksa rekeningnya termasuk status saldo dan melakukan transfer antar rekening. Lalu, Bank of America meluncurkan chatbot Erica untuk membantu nasabahnya memeriksa saldo, membayar tagihan, dan memberikan jawaban atas pertanyaan terkait bank. Sementara Liberty Mutual juga memakai chatbot yang menawarkan fungsi serupa dengan penambahan pencegahan risiko penipuan (Arifin, 2019).

Kisah sukses penggunaan chatbot di dunia bisnis adalah Adidas. Ia menggandeng agensi pemasaran bernama Byte, dengan memakai chatbot berbasis Facebook Messenger. Chatbot Adidas ini dibuat untuk memasarkan serta melakukan pemesanan ruang komunitas perempuan bernama Studio LDN dengan cara interaktif. Hasilnya, dalam seminggu selepas diluncurkan terdapat 2.000 orang yang mendaftar usai mengobrol dengan chatbot  (Zaenudin, 2017). 

Hasil ini tentu luar biasa, karena mengajak 2.000 orang mendaftar di suatu layanan dalam waktu satu minggu bukanlah perkara mudah. Alasannya sederhana, butuh tim yang tidak sedikit untuk melakukannya. Chatbot mampu hadir menggantikan peran manusia  (Zaenudin, 2017). 

Chatbot dianggap sebagai solusi alternatif yang efektif, sehingga perusahaan dapat mengalokasikan karyawannya untuk melakukan skala prioritas lain. Dengan chatbot, perusahaan juga dapat memperluas operasi pelayanan pelanggan secara global dengan biaya rendah (Ningrum, 2017). 

Bagi industri customer service, manfaat terbesar yang didapatkan dari menggunakan chatbot adalah mereka tidak perlu menyewa, mengelola atau pun menambah tenaga kerja lagi seiring berkembangnya perusahaan. Aspek penghematan biaya menjadi bahan pertimbangannya (Ningrum, 2017).

Perusahaan riset yang berbasis di Amerika Serikat (AS) Juniper Research melaporkan, penggunaan chatbot oleh industri retail, perbankan, dan kesehatan tahun ini bisa menghemat biaya operasional hingga US$ 6 miliar atau sekitar Rp 86,4 triliun. Angka itu diprediksi meningkat hingga US$ 11 miliar pada 2023 (Setyowati, 2018). 

Chatbot bisa mengurangi waktu interaksi antara perusahaan dengan konsumen melalui telepon dan media sosial, sehingga biayanya lebih murah. "Diperkirakan, konsumen dan perusahaan di ketiga industri ini menghemat lebih dari 2,5 miliar jam (untuk berinteraksi) hingga 2023," sebagaimana dikutip dari laporan bertajuk 'Chatbots : Banking, eCommerce, Retail & Healthcare 2018-2023 (Setyowati, 2018).

Chatbot itu 24 jam. Apa maksudnya dari 24 jam ? Maksud dari 24 jam itu sendiri adalah Chatbot ini dapat online selama 24 jam tanpa tidur, karena yang menjalankan sistem pada Chatbot adalah robot. Berbeda jika menggunakan manusia dalam urusan customer service, terkadang ada kendala pada khususnya jam kerja karena manusia tidak dapat online selama 24 jam untuk melayani customernya. Maka Chatbot lah solusi yang tepat untuk melayani customer kapan saja dan dimana saja (Wikrama, 2019).

Fungsi CHATBOT tak sebatas sebagai customer care. Kini, sederet brand mulai menggunakan Chatbot untuk membantu mereka memasarkan produk, memproses transaksi jual beli, hingga mengumpulkan data pelaku untuk profiling yang berujung kepada targeted messaging (Bella, 2017).

Chatbot dapat pula digunakan untuk meningkatkan loyalitas konsumen.  Contohnya, jika sebuah brand bergerak di bisnis ritel atau apparel, mereka dapat mengintegrasikan fungsi Chatbot ke dalam loyalty platform mereka. Brand dapat melihat produk FMCG apa yang dibeli konsumen dan kapan perkiraan waktu pemakaian produk tersebut habis. Brand kemudian dapat secara proaktif mengingatkan konsumen tersebut untuk membeli produk itu kembali melalui Chatbot. Jadi, fungsinya memang beragam (Bella, 2017).

Kendati terkesan sempurna, ternyata sistem robotik pada portal properti ini juga memiliki banyak kelemahan. Contohnya seperti tidak bisa menenangkan pelanggan yang marah, merasakan kekhawatiran pelanggan, atau menampilkan empati. Hal ini disebabkan karena sistem ini tidak memiliki kecerdasan emosional, seperti manusia (Hidayat, 2016).

Menurut kami efek negatifnya saat ini belum ada, karena chatbot belum bisa menggantikan peran manusia khususnya jika melayani pertanyaan tidak umum seperti pendapat, dsb. Untuk chatbot sendiri saat ini hanya dapat menjawab pertanyaan yang umum, seperti harga, spesifikasi, ketersediaan stok, dsb (Acerid, 2018).

Bagaimana dengan Indonesia ? Kebijakan pemerintah yang lebih mendukung pengembangan industri padat karya dan ketergantungan penerimaan pajak memang akan membuat penerapan kecerdasan buatan lebih lambat. Namun, karena lebih efisien dari sisi bisnis, pemilik usaha tentu tidak akan tutup mata akan keberadaan teknologi tersebut. Bukan menakuti-nakuti. Sebaiknya mulai mempersiapkan diri dan membuka cara pandang baru. Mulailah dengan menambah pengetahuan dan keterampilan baru (Kompas Cyber Media, 2017).


Gambar 3. Sebuah Infografik untuk mempertimbangkan  menggunakan Chatbot. Sumber : https://miro.medium.com